Feeds:
Posts
Comments

Kegiatan SREG memang bisa dibilang mobile. Kali ini SREG diberikan amanah oleh BEM STKS Bandung agar dapat bisa mambantu dalam pelaksanaan kegiatan PTK(Perguruan Tinggi Kedinasan) EXPO 2009 yang insyallah diadakan di area kampus STKS Bandung sendiri tanggal 22-23 Mei 2009.

PTK Expo ini akan diikuti tidak kurang dari 15 PTK se-Indonesia. Sebenarnya jumlah PTK di Indonesia adalah kurang lebih 80 pTK, namun sampai sekarang hanya tinggal 30 PTK yang bisa bertahan dan sekitar 15 yang bisa eksis termasuk STKS Bandung sendiri.

Mengenai teknis acara PTK Expo nanti, akan diadakan 4 acara, yakni Pameran, Pensi, Semiloka dan Bazaar.

PAMERAN. Pameran ini akan menampilkan profil dari PTK-PTK  yang hadir, mulai dari history PTK tersebut hingga syarat pendaftaran dan waktu pendaftarannya. Jadi cukup lengkap bagi adik-adik di SMA/MA/SMK yang berminat memasuki PTK. Namun pesan saya, jangan menunggu minat dulu, kunjungi, lihat dan pahami, maka baru kalian bisa memutuskan ingin masuk atau tidak. Karena memang fenomena yang terjadi saat ini, mungkin PTK yang dikenal hanya STAN dan IPDN padahal selain itu masih banyak PTK-PTK lain yang berkualitas dan siap mencetak generasi-generasi handal penerus bangsa Indonesia.

PENSI. Pensi adalah ajang untuk mengekspresikan diri melalui musik, karena memang inilah yang menajadi ciri khas mojang-jajaka Bandung, yakni kekreativitasan mereka dalam bermusik. Ajang ini untuk menampung bakat mereka dan juga sebagai hiburan dalam acara PTK Expo 2009.

SEMILOKA. Semiloka akanmembahas mengenai Asosiasi PTK seluruh Indonesia yang sebelumnya sempat Vakum. Hal ini amat perlu untuk bisa mengeksiskan seluruh PTK-PTK yang ada di Indonesia.

BAZAAR. Bazaar ini diperuntukkan bagi sponsor yang akan turut serta meramaikan acara PTK Expo 2009. Dalam acara Bazaar ini kalian akan mendapatkan berbagai macam pernak-pernik dan oleh-oleh khas Bandung maupun khas dari masing-masing daerah yang ada di Indonesia(karena mahasiswa STKS adalah menyebar dari seluruh pelosk wilayah Indonesia).

Nah, keikutsertaan SREG dalam acara besar ini membuktikan bahwa SREG akan selalu konsisten baik di berbagai macam permasalahan sosial, namun juga akan berjuang keras demi menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi para pemuda kita.

Salam semangat sosial SREG!!!!

Kemarin tanggal 31 Maret 2009, kami SREG’s Team dan juga mahasiswa BEM STKS Bandung dibantu oleh beberapa mahasiswa turun ke jalan. Memangnya sedang ada hajatan apa..?? Yupz kemarin kita turun ke jalan dalam rangka untuk penggalangan dana bagi saudara kita yang tertimpa musibah di Situ Gintung sana.

Ini merupakan langkah apresiatif kami sebagai seorang mahasiswa jurusan Pekerjaan Sosial dalam mengaplikasikan ide-ide dan gagasan dalam bentuk nyata. Rencananya, disamping kami akan menyumbang berupa uang dan makanan ringan, perhatian kami tertuju pada penanganan pasca bencana bagi anak dan remaja. Tentu saja jika diizinkan, kami akan mencoba untuk memberikan konseling trauma di lapangan.

Mengenai cerita pada saat penggalangan dana kemarin, SREG’s Team yang turun adalah, Teh Desy selaku ketua SREG, Lukas, saya sendiri, Berry, Danu, Rizma, dan Selly. Kemudian koordinator dari BEM adalah Kang Rudi dibantu oleh Teh Yuni, Yudhistira, Bima, Smith dan beberapa teman yang saya belum kenal namanya.

Team penggalangan dana kita turunkan di tempat-tempat ramai pengendara, yakni di Perempatan Simpang Dago,  BCA Fly Over, dan juga di Perempatan BIP. Saya sendiri pengalaman seperti ini adalah kali yang pertama. Tidak seperti mahasiswa yang pernah saya lihat dulu, mereka beramai-ramai dengan bercanda ria meminta sumbangan, biasanya sambil menyanyikan sebuah lagu. Saya kemarin benar-benar sendiri, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Kita harus benar-benar siap mental, siap dicuekin dan juga siap menerima uang yang kemarin bahkan ada yang memberikan sumbangan sebesar 50 ribu (^_^)

Alhamdulillah hasil yang kami dapatkan tidak sedikit, tercatat di Simpang Dago kami mendapatkan 520 ribu, kemudian di Jembatan Fly Over menbdapatkan 450 ribu dan di BIP mendapatkan 200 ribu. Hasil sumbangan itu semua akan kami salurkan ke Situ Gintung tanpa ada embel-embel untuk mengkorupsi. Miris rasanya jika ada seseorang yang tidak memberikan sumbangan malah mengklaim kita akan mengkorupsi dana sumbangan tersebut, nauzdubillah.

Nah mengenai keberangkatan ke Situ Gintung, kami menjadwalkan diri akan berangkat ke sana pada hari Jum’at pagi minggu ini. Semoga semua bisa berjalan lancar semua, amiinn.

Salam hangat dan salam perubahan demi kemakmuran saudara kita yang tertimpa musibah.

Sebenarnya tulisan ini saya buat sebagai ungkapan ketidakpuasan dan ketidakadilan yang telah melanda mahasiswa(baca:calon mahasiswa) dari kalangan keluarga yang tidak mampu. Begitu banyak warga miskin kita dan salah satu penyebabnya adalah karena tidak meratanya akses pendidikan yang memadai bagi seluruh warga negara di Indonesia ini.

Nah, bagian yang ingin saya bahas adalah mengenai semakin sulitnya calon mahasiswa dari keluarga yang tidak mampu untuk meraih akses pendidikan tinggi di universitas atau perguruan tinggi.

Continue Reading »

TEATER ORANG DESA

TEATER ORANG DESA

Dengan berbagai macam persoalan yang melingkupi seperti kemiskinan, buruknya infrastruktur, kompleksitas permasalahan pertanian, maupun rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan, semua bisa menjadi “komoditas yang bisa dijual” oleh politikus untuk mendapatkan suara orang desa. Karena itu, tidak heran sejumlah politisi dn parpol telah menggelar “Panggung Teater“ dimana orang-orangnya terlibat langsung dalam tutur dan gambar. Di era komunikasi yang serba canggih dan modern merupakan media sarana yang sangat efektif dan efisien bagi politisi untuk membuat manajemen kesan dalam rangka menunjukkan panggung depan mereka. Ini bisa dilihat dari gambar yang tersaji di iklan politik yang menyajikan eksotisme desa yang berbalut wajah-wajah yang tidak berdaya karena tesingkir jauh dari era pembangunan. Dengan nilai resmi dimasyarakat bahwa politisi ideal adalah mereka yang dekat dan peduli dengan rakyat, politisi yang menciptakan panggung depannya untuk menunjukkan kepedulian bahwa mereka siap mengentaskan segala problem itu. Tampilan para politisi di poster, spanduk, dan baliho yang bertebaran di desa-desa juga bagian dari menajemen kesan itu. Bagaimana dengan tampilan iklan diparpol yang menjadi pemegang kendali pemerintah? Panggung yang diciptakan adalah suksesnya pembangun dengan wajah para petani desa yang riang serta anak-anak yang menikmati pendidikan murah. Maka, panggung depan yang diciptakan adalah bagaimana kepuasan orang-orang desa agar bisa dilanjutkan dan di tingkatkan. Bagaimana dengan panggung belakang politisi? Wilayah yang disebut Goffman sebagai wilayah dimana actor membuka topengnya ini tentu tidak banyak diketahui orang desa. Ini disebabkan mayoritas politisi adalah orang-orang kota dan orang desa hanya bisa menikmati saja panggung teater politik 2009 atau mereka acuh tak acuh saja. Dan ketika pemilu selesai, akankah teater pemilu ini menjadi kenyataan?

Orang-orang desa hanya tinggal menunggu bagaimana akhir dari cerita politisi memainkan drama ini di panggung teater politik 2009…..

DESY ARISANTY KATILI

INIKAH AKU

INIKAH AKU

Tuhan… Inikah Aku..?

yang ada karena engkau ada..?

Inikah hidup diatas kehidupan…?

Inikah aku yang engkau hadirkan sebagai pelengkap ikrar karenamu…

Tuhan…

Mengapa pendambaku menggadaikan keringatku..?

Mengapa kebahagiaan kecilku hilang…

Dimana garis putihku…

Dimana kereta – kereta kecil itu…

Dimana boneka kecilku…

Continue Reading »

WELCOME SREG’S MEMBERS TEAM

Tanggal 2 Februari bertempat di Bakso Karapitan Ciwalk Bandung, SREG’s Team mengadakan pertemuan kembali guna membahas tindak lanjut jalannya program kerja yang telah direncanakan. Pertemuan ini juga merangkap sebagai pertemuan “welcome drink” bagi anggota tim SREG yang telah pulang dari liburan semester I kemarin. Sayang pada pertemuan kali ini, pembina SREG tidak dapat hadir karena ada suatu kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan. Agenda strategis yang kami bahas adalah sebagai berikut :

Pembuatan kaos sebagai lambang adanya SREG sebagai tim penelitian mahasiswa.

Update BLOG SREG agar lebih familiar kepada masyarakat khususnya mahasiswa STKS sendiri

Membuat tulisan mengenai fenomena sosial yang akan dipublikasikan di kampus STKS Bandung

Akan ada pertemuan dengan pihak lembaga STKS dalam rangka sosialisasi SREG

Akan ada project untuk observasi ke Kabupaten Banjaran Bandung

Pertemuan dibahas dengan santai namun memiliki bobot pembicaraan yang cukup serius, mengingat kami juga akan mempersiapkan presentasi sosialisasi kepada lembaga STKS sebagai mahasiswa yang pertama kalinya mendeklarasikan tim peneliti mahasiswa di STKS Bandung ini.

PERPISAHAN ANGGOTA SREG

Hari Rabu kemarin adalah hari terakhir dalam menempuh Ujian Akhir Semester (UAS) STKS Bandung semester 1 tahun ajaran 2008/2009. Pada saat itu pula telah diumumkan salah satu nilai yaitu mata kuliah Pendidikan Pancasila. Alhamdulillah saya mendapat nilai “A”. Berakhirnya UAS ini menandai bahwa liburan semester sudah tiba. Maka kami para anggota SREG bermusyawarah kecil-kecilan di AULA lantai I STKS Bandung guna saling memberikan ucapan selamat jalan. Di sini kami juga sedikit mereview lagi mengenai kelanjutan pembentukan SREG kemarin, yakni pembuatan kaos secepatnya serta menyusun program yang akan menjadi pekerjaaan untuk kita nanti. Untuk langkah awal dan merupakan program kerja terbesar adalah project dengan RS. Hasan Sadikin mengenai “masih rahasia” yang nantinya akan kami ajukan ke STKS, Pemkab Bandung hingga ke DEPSOS RI. Tadi kami juga saling menyemangati satu sama lain dan menyadarkan kembali bahwa kami adalah satu keluarga, maka apapun masalah dan problematika kehidupan yang dialami diusahakan kita bagi bersama sehingga dapat dicari solusinya. Kami juga mendapatkan tugas dari sang Koordinator, Teh Decy Katili agar memperhatikan lingkungan di sekitar daerah masing-masing dan berusaha melihat apa yang tidak terlihat oleh masyarakat awam, khususnya mengenai permasalahan-permasalahan sosial. Intinya di sini kita akan belajar mengasah kepekaan kita terhadap problematika yang terjadi di sekitar kita lalu kita secara bersama-sama akan berfikir bersama untuk mencari cara penanggulannnya. Mengingat penjelasan dari salah satu pembina SREG, Kak Adelino, Beliau menegaskan pentingnya kemampuan menulis bagi seorang Pekerja Sosial. Orang boleh saja pintar atau cerdas, namun menulis adalag sebuah bakat dan bakat ini harus dilatih dan dikembangkan secara kontinu. Seseorang yang pantdai meneliti tanpa bisa menuliskan, dalam artian menyusun laporannya, maka apa yang telah diusahakannya tidak akan bisa diakui siapa-siapa. Untuk lebih bisa mengaktualisasikan hal ini secara nyata, maka kami juga diharapkan bisa menulis essay yang cukup singkat namun berisi mengani kajian bidang sosial, baik menyangkut kampus ataupun kejadian di masyarakat sekitar. Sungguh petuah yang sangat bijaksana. Akhirnya kami semua berpamitan satu sama lain hingga waktu dhuhur berkumandang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.